Monday, 12 March 2018

SHARING EXPERIENCE: KEHAMILAN PERTAMA, DINYATAKAN BLIGHTED OVUM (BO) DAN BERAKHIR DENGAN KURET

[DISCLAIMER] Pengalaman yang akan saya share disini adalah pengalaman pribadi saya. Sebagai orang awam yang kurang familiar dengan istilah medis, saya meminta maaf sebelumnya apabila ada penggunaan istilah atau penjelasan yang kurang tepat pada artikel ini. Tulisan ini semata-mata saya buat hanya untuk sharing pengalaman dan informasi (yang saya dapat) kepada pembaca.

Di sini saya akan menuliskannya dalam '2 bagian'. Pada bagian pertama saya akan bercerita tentang masa-masa pemeriksaan kehamilan sampai dinyatakan BO, dan di bagian kedua baru saya akan bercerita tentang proses kuretnya. Jika merasa tulisan ini terlalu panjang, sila langsung jump in saja ke bagian kedua (masih dalam postingan ini)

* * *


Bagian 1

Kurang lebih setelah 3 bulan pernikahan, mengetahui bahwa saya positif hamil adalah suatu moment yang sangat membahagiakan bagi saya dan suami. Keesokan harinya setelah (total) melakukan triple check dengan menggunakan test pack, akhirnya kami pergi untuk final check ke klinik bidan.

Bu bidan menjelaskan kepada saya bahwa berdasarkan perhitungan haid, usia kehamilan saya memasuki minggu ke-6, namun jika dilihat dari hasil USG yang menunjukan kantung janin yang masih kosong, beliau memperkirakan usia kehamilan saya masih berusia sekitar 3 minggu. Sebelum pulang, Bu bidan menyarankan saya untuk banyak mengkonsumsi makanan-makanan yang tinggi asam folat. Saat itu saya pun diberikan vitamin dan asam folat tambahan untuk saya konsumsi selama kurang lebih 2 minggu, tak lupa beliau meminta saya untuk memeriksakan kondisi kehamilan saya 10 hari kemudian.

Saya datang kembali sesuai jadwal yang disarankan sebelumnya oleh Bu bidan untuk memeriksakan kembali kehamilan saya. Pada saat itu seharusnya usia kehamilan saya telah memasuki minggu ke-8. Pada minggu ke-8, seharusnya embrio sudah semakin terlihat jelas. Tapi ketika pemeriksaan USG berlangsung, di monitor terlihat bahwa kehamilan saya masih berupa kantung kosong, tidak ada penampakan janin sebiji jagung pun di dalamnya. Dug! Saya pun mulai resah. Bu bidan bilang, saya harus kembali lagi minggu depan, jika kemudian hasil pemeriksaan masih sama (belum ada janin juga di dalamnya) maka kehamilan saya kemungkinan adalah Blighted Ovum (BO) atau istilah awamnya "hamil kosong" yaitu kehamilan yang tidak mengandung embrio meskipun terjadi pembuahan di dalam rahim.

Singkat cerita, seminggu kemudian setelah melakukan pemeriksaan terakhir di klinik Bu bidan, saya dirujuk oleh beliau ke seorang dokter obgyn yang membuka praktek 24 jam di daerah Duren Sawit. Malam itu juga sepulang dari sana, saya dan suami dengan perasaan corat-marut langsung menuju klinik dokter obgyn yang dimaksud. Berharap mendapat sebuah hasil pemeriksaan berbeda yang tentunya lebih baik, walaupun peluang harapan itu terjadi sangat amat tipis. Sepanjang jalan, saya tak putus-putusnya berdoa dan sesekali menenangkan hati saya sambil menahan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

Benar dugaan saya, hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter ternyata sama dengan diagnosa Bu bidan. Blighted Ovum. Pak dokter kemudian menyarankan saya untuk segera dikuret, lebih cepat lebih baik. Karena malam itu saya masih shock dan masih belum siap (takut, lebih tepatnya) maka saya memutuskan untuk memikirkan "kapan waktu yang tepat" dulu di rumah, sembari saya mempersiapkan diri.

Beberapa hari setelahnya, saya menyibukan diri dengan membaca artikel-artikel mengenai pengalaman kuret di berbagai forum dan blog. Saya ingin tau, sakitkah dikuret itu. Membayangkan perut/rahim kita 'dikorek-korek' (seperti mengerok isi/daging kelapa, kalau kata Pak dokter) membuat saya malah semakin takut dan ngilu! Apakah akan sesakit yang saya bayangkan?


Bagian 2

Setelah mengumpulkan kepingan hati saya yang telah hancur akan kenyataan 'gagal' hamil, dan setelah mengumpulkan keberanian yang cukup untuk mau - tidak - mau harus melakukan kuret, akhirnya saya menetapkan tanggal kapan saya siap dikuret, yaitu 26 September 2017.

Sepulang dari kantor (saat itu saya masih bekerja), saya dan suami langsung menuju klinik. Setelah mendaftarkan diri dan mengurus proses administrasi untuk mendapatkan penanganan kuret yang rencananya akan dilakukan esok harinya, malam itu juga saya diberi 2 butir obat yang harus diminum di sana dan saat itu juga, tak lupa diberi penjelasan lebih lanjut mengenai proses dan penanganan kuretnya. Setelah itu, saya dipersilahkan pulang untuk menunggu obatnya bereaksi di rumah. Bidan/perawat disana juga mengingatkan, kapanpun ketika sudah mulai keluar banyak darah, saya diminta untuk segera datang ke klinik.

Pagi harinya (sekitar 12 jam setelah minum obat yang semalam) darah sudah mulai keluar, seperti saat haid tapi agak lebih banyak. Apakah itu disebut pendarahan, saya kurang tau. Pagi itu juga, saya diantar dan ditemani oleh orang tua saya ke klinik (suami saya sedang mengikuti seminar, btw. Dan memang saya yang menyarankan suami saya untuk tidak perlu menemani saya karena toh ada kedua orang tua saya, dan itu sudah cukup).

Sesampainya di klinik, saya langsung diperiksa oleh bidan/perawat yang berjaga di sana, ternyata masih pembukaan 1, dan saya diminta untuk menunggu beberapa saat lagi sampai pembukaannya cukup sambil menunggu Pak dokter yang kebetulan sedang menangani proses persalinan terlebih dahulu.

Sekitar 2 jam kemudian, saya dipanggil untuk masuk ke ruangan 'operasi'. Yang sangat membuat saya surprised adalah, (menurut ibu saya) proses kuret tersebut hanya berlangsung selama 5 menit. Ya, 5 menit saja! Selama di dalam ruangan, saya dibius total, sehingga alhamdulillah saya tidak merasakan apa-apa. Jadi kalau ditanya, sakitkah dikuret itu? Nope, tidak sama sekali. Jadi, jangan takut.

Setelah proses kuretnya selesai, saya dipindahkan ke ruangan lain untuk menunggu kesadaran saya penuh kembali. Saat proses pemindahan ke ruangan tersebut, samar-samar saya sudah bisa mendengar suara/percakapan di sekitar meskipun badan saya masih mati rasa (belum dapat digerakan sama sekali). And surprisingly, tidak lebih dari 2 jam setelah proses kuretnya selesai, saya sudah bisa pulang ke rumah! Alhamdulillah.. Saya gak pernah menyangka prosesnya akan secepat itu. Tidak ada rasa sakit yang saya rasakan, hanya efek samping dari obat biusnya saja yang ngebuat saya 'eneg' dan pusing. Sebelum pulang, perawat di sana bilang, sangat wajar bila saya merasa mual dan muntah, selain karena efek dari obat biusnya tersebut, juga karena yaa..bayangkan saja, isi rahim/perut kita abis dikorek-korek..masa iya sih gak mual. Tapi, syukur Alhamdulillah-nya lagi, rasa 'eneg' yang saya rasakan gak sampai bikin saya muntah-muntah.

Setelah kuret, saya hanya perlu menjaga pola makan dan asupan makanan saya. Tidak ada pantangan khusus, hanya saja untuk sementara tidak diperbolehkan makan yang pedas-pedas dulu. Seminggu dan sebulan pasca kuret dianjurkan untuk kontrol kembali untuk memastikan bahwa keadaan rahim sudah benar-benar bersih.

Demikian sharing pengalaman dari saya, sekali lagi ini adalah pengalaman saya pribadi yang mana bisa jadi berbeda dengan pengalaman orang lain, karena kondisi dan alasan dibalik mengapa suatu kehamilan harus berujung dengan dikuret itu berbeda-beda. Saya juga tidak lantas beranggapan bahwa 'dikuret itu gak sakit dan bukan suatu masalah besar'. Tidak. Dikuret itu menurut saya tetap suatu keadaan yang sangat serius dan butuh penanganan yang serius pula.

Terimakasih sudah mampir dan semoga bermanfaat 💛

Wednesday, 7 March 2018

REVIEW EMINA CHEEKLIT PRESSED BLUSH (COTTON CANDY)


Assalamualaikum Bu-ibu, Kakak-kakak, Adek-adek, Men-temen 😊

Kali ini saya mau sedikit sharing (atau review) tentang blush on dari Emina yang baru aja saya beli dan coba. Sebenernya blush on ini kalau gak salah udah ada dari lama, tapi entah kenapa saya baru 'ngeh' kalau Emina punya produk blush on yang jenisnya pressed powder kayak gini baru sekitar sebulan - 2 bulan yang lalu, karena sebelumnya yang saya tau produk blushnya Emina cuma yang creamnya aja (Kudet detected 😅)

Setelah saya tau tentang keberadaan blush on ini apa akhirnya saya jadi langsung memutuskan buat beli dan nyoba? To be honest sih enggak. Agak kepincut sih, pingin beli karena packagingnya yang simple, kecil, dan cute tapi gak norak, cuma somehow agak underestimate sama produk-produk Emina yang harganya tergolong murah. Apa harga segitu ngejamin produknya bagus? Begitu pikir saya -pada awalnya. Ya walaupun harganya murah, tapi kan sayang aja kalau ujung-ujungnya gak kepake..

Sampai akhirnya, pas saya nonton video Youtubenya FemaleDaily yang 'FemaleDaily Best of Beauty Award 2017', ternyata... EMINA Cheeklit Pressed Blush keluar sebagai pemenang "Best Blush"!. Wiiihh.. Leh uga nih 😀

Long short story, akhirnya saya mutusin buat beli deh..


Saya beli EMINA Cheeklit Pressed Blush yang shade Cotton Candy, awalnya agak ragu sama shade ini karena keliatannya warnanya terlalu 'gonjreng' ya di gambar, tapi setelah menimbang-nimbang dan nge-compare sama kelima shade lainnya, saya rasa shade Cotton Candy ini yang paling cocok di skintone sawo matang/warm undertone kayak saya. Dan alhamdulillah ternyata iya.


PACKAGING

EMINA Cheeklit Pressed Blush ini memiliki packaging box yang warnanya disesuaikan dengan shadenya, di bagian depan box terdapat lubang di tengahnya, sehingga kita bisa melihat langsung warna shade yang sesungguhnya dari sana. Sedangkan di bagian belakang box terdapat keterangan nama shade, ingredients, netto, dan exp date-nya. Untuk wadah/packaging produknya sendiri berbahan plastik transparan, yang simple namun terkesan imut karena ada aksen white lace di bagian tutupnya. Untuk bagian belakang wadah produk juga sekali lagi terdapat keterangan nama shade dan exp date. Overall, saya suka banget sama packaging dari EMINA Cheeklit Pressed Blush. Ukurannya yang kecil mungil juga gak bikin makan tempat kalau ditaro dalam pouch makeup.

 

TEXTURE AND PIGMENTATION

Tekstur dari blush on ini bener-bener powdery namun gak banyak fall out-nya koq. Kalau swatched di tangan keliatannya agak sedikiiitt ada 'shimmer'nya, tapi ketika saya aplikasikan langsung di pipi, 'shimmernya' sih gak keliatan, justru menurut saya jatohnya malah matte finish.

Nah, dari segi pigmentasi, saya agak bingung sama blush on ini.. Ketika swatched di tangan keliatan sih, walaupun kalau sekali poles keliatannya cuma samar-samar. Tapi ketika langsung pengaplikasian di pipi, blush on ini menurut saya pigmented banget. Yang bikin saya bingung adalah, kalau di hasil foto, penampakan blush on-nya samar-samar banget.. Malah nyaris keliatannya kayak lagi gak pake blush gitu 😅 kenapa ya.. Padahal di kenyataannya pigmented banget lhoo. Apa saya-nya aja yang gak bisa foto? Saya penasaran kan, trus saya googling deh tuh, ternyata review dari user lainnya yang pake blush ini juga sama.. Kalau di camera, blush on-nya juga nyaris pada gak keliatan. Meskipun begitu, saya tetep suka koq, soalnya jatohnya jadi keliatan lebih natural.. Ya gak sih? Hehe..

Indoor, No Edit, No Filter. Blush On-nya nyaris gak keliatan.
Kayak gak pake blush on ya?

SHADE, PRICE, AND WHERE TO BUY

Shade Cotton Candy yang saya pilih memiliki base warna pink dengan hint merah.. Jangan takut liat penampakan warnanya pada kemasan yang terkesan 'ngejreng' yaa.. Karena percayalah, warnanya setelah diaplikasikan gak akan se'medok' itu koq. Karena blush ini pigmented banget, tinggal usap ke pipi pelan-pelan aja, warnanya pasti udah langsung keliatan. Shade yang saya pilih ini warna pink-nya cocok banget untuk dipakai gaya blush on 'demam' atau blush on 'nyebrang hidung' yang lagi kekinian itu 😁

Oh ya, blush on ini terdiri dari 6 shades yang kesemua warnanya terlalu-imut-untuk-tidak-dimiliki. Dan dengan harga yang super affordable (yaitu Rp. 36,000 ajaaahh) menurut saya blush on ini worth it untuk dicoba.
Since Emina ini adalah produk lokal, jadi produk ini cukup mudah ditemukan. Tersedia di counter-counter Emina, supermarket, online shop, atau e-commerce kayak Sociolla, dll.




PRO's

- Packagingnya cute, sizenya yang mungil bikin gak makan tempat kalau ditaro dalam pouch makeup (travel-friendly)
- Harganya affordable banget, malah tergolong murah
- Durability-nya cukup bagus, kena air pas wudhu gak langsung totally hilang
- Pigmented banget
- Bagi yang gak suka blush on yang shimmery, bakal suka sama ini karena finishnya matte
- Untuk shade Cotton Candy ini cocok untuk skintone saya yang sawo matang/warm undertone

CON

- Kalau di camera, blush on-nya nyaris gak keliatan

REPURCHASE?

OF COURSE! Tapi pingin nyobain shade yang lain 😊

< > Home
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.